Mandala Mata Bumi, Situs Megalitik Terbesar Di Jawa Tengah Ditemukan di Dayeuhluhur, Cilacap

Ditemukan Situs Megalitik Terbesar di Jawa Tengah
Ditemukan Situs Megalitik Terbesar di Jawa Tengah

“Seluruh Struktur berada di puncak pegunungan, hampir tidak tersentuh aktivitas manusia, oleh karena akses menuju lokasi begitu sangat sulit,” tukasnya.

Menurutnya ada banyak sekali layar budaya di sana, bahkan Belanda juga menempatkan titik triangulasi pada titik paling tinggi di gunung Subang Kuta Agung tepat di tengah-tengah situs tersebut.

“Kedepan, kita akan eksplorasi, yang jelas kami akan bikin laporan, kemudian kami juga menyerahkan laporan itu ke dinas terkait di kabupaten Cilacap untuk ditindaklanjuti dan juga nanti kalau bisa kita melakukan pemetaan bersama,” akunya.

Pihaknya mengaku akan melakukan upaya pendalaman kajian yang meliputi Benda, Bangunan, Struktur, Situs, maupun Kawasannya sebagai upaya pelestarian nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan bangsa.

“Tentunya tidak sendiri, dalam hal upaya pelestarian, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya kebendaan atau Cagar Budaya, khususnya situs ini, bersama pemerintah Kabupaten Cilacap, sebagaimana amanat Undang-Undang No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” pungkasnya.
Mandala Mata Bumi, Pusat Keseimbangan Bumi
Adapun sebutan situs Mandala Mata Bumi, penamaan tersebut mengacu dari pada nilai budaya dalam tradisi masyarakat setempat yang merujuk pada simbol mata yang terdapat pada ukiran batu megalitikum,

“Mandala Mata Bumi sebagai rumah ibadah pemujaan yang berarti jadi pusat pandang, dan/atau pusat keseimbangan bumi,” demikian dikatakan tokoh budaya dayaluhur, Ceceng Rusmana alias Ki Lambang Wijaya Kusuma.

Dia sampaikan juga bahwa menurut penuturan tradisi lama, dalam ruang kosmologi leluhur setempat, sejak lama kawasan situs tersebut merupakan bangunan Sanghyang Wayang.

“Kawasan Sanghyang Wayang atau Mandala Mata Bumi ini dahulu dikelilingi oleh empat danau besar, namun kini berubah, sebagian telah mengering dan berubah fungsinya,” jelasnya.

Adapun keempat danau besar itu meliputi Danau Kuta Agung yang sekarang di sekitar hulu Sungai Cijolang, Danau Sagara di wilayah hulu Sungai Cipamali, Rawa Onom di kawasan Panulisan–Banjar, serta Rawa Gebang Kuning di wilayah selatan Majenang,

“Keempat danau besar itu pada masa lalu membentuk satu bentang alam sakral yang mengitari Mandala tersebut,” ungkapnya.

Perlu diketahui, turut serta mendampingi dalam penemuan situs megalitik ini antara lain Korcam Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Dayeuhluhur, Pendamping Desa (PD), Pendamping Lokal Desa (PLD), Pencinta Alam SMA Negeri Dayeuhluhur (Pasmada), Guru, Pemuda, Lembaga Adat setempat, serta para punggawa dari Lesbumi NU Dayeuhluhur. (IHA)

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait