Hal itu juga dibuktikan berdasarkan temuan dongkrak yang dikubur bersama 4 korban.
“Kondisi besinya sudah seperti ini karena dikubur di dekat saluran air sehingga terkikis,” ujar Kapolres menunjukkan besi bekas dongkrak yang digunakan untuk memukul korban Sugiono dilansir dari Antara.
Setelah memukul Sugiono dengan besi bekas dongkrak, Sugiono kembali dipukul oleh Putra dengan menggunakan tabung elpiji berukuran 3 kilogram. Sehingga Sugiono meninggal dunia dan selanjutnya jenazahnya dibawa ke salah satu kamar di rumah tersebut.
Sebelum Sugiono dibunuh, sempat terjadi percekcokan sehingga terdengar oleh tetangga sekitar rumah Misem.
“Saat tetangga datang, ditemui oleh Saminah dan disampaikan bahwa ada permasalahan sedikit, tapi sudah tidak ada masalah. Jadi yang menenangkan tetangga yang datang itu Ibu para tersangka ini,” ucap Kapolres.
Kapolres mengatakan, Irfan dan Putra selanjutnya menunggu kedatangan penghuni rumah Misem lainnya, hingga akhirnya datanglah korban kedua, yakni Supratno yang baru pulang dari tempat kerja.
Sesampainya di rumah, Supratno yang diketahui sebagai pegawai negeri sipil langsung dibunuh oleh kedua tersangka dengan cara dipukul menggunakan besi dan tabung elpiji. Setelah meningggal dunia, jenazah Supratno dibawa ke dalam kamar dan ditumpuk di atas jenazah Sugiono.
“Tidak lama kemudian, datanglah saudara Heri yang merupakan putra bungsu atau putra kelima dari Bu Misem. Begitu datang dan masuk ruang tengah, saudara Heri langsung dipukul dari belakang oleh kedua tersangka hingga meninggal dunia dan selanjutnya dimasukkan ke dalam kamar, lalu ditumpuk dengan korban lainnya,” papar Kapolres, menjelaskan.
Mahasiswi IAIN tak Luput dari sasaran tersangka
Kendati tiga orang tersebut merupakan target utama, namun kedua tersangka tahu jika tidak lama lagi akan datang sepupu mereka, yakni Vivin yang merupakan putri dari korban atas nama Supratno dan tercatat sebagai mahasiswi IAIN Purwokerto.
Saat tahu Vivin akan datang, kedua tersangka mencoba mengirim pesan singkat melalui telepon seluler milik Supratno supaya tidak pulang agar tidak menjadi korban kembali.
Akan tetapi ternyata pesan singkat itu tidak dibalas karena Vivin sudah sampai di rumah Misem hingga akhirnya turut dibunuh oleh Irfan dan Putra.
“Keempat korban selanjutnya dikubur di belakang rumah Misem pada malam hari,” ungkap Kapolres.
Setelah Membunuh 4 Saudaranya
Masih dilansir dari Antara. Setelah kejadian tersebut, Misem dilarang pulang ke rumahnya oleh Saminah selama hampir satu bulan dan selama itu pula Irfan beserta Putra selalu membersihkan rumah Misem yang berjarak sekitar 5 meter dari rumahnya.
Tampilkan Semua
